• Home
  • Berita Turnamen
  • Elena Rybakina Kembali ke Level Elite dengan Kemenangan Dominan di WTA Finals

Elena Rybakina resmi kembali berada di antara para pemain elite. Bintang asal Kazakhstan itu menampilkan salah satu performa paling lengkap dan dominan dalam kariernya untuk memenangkan WTA Finals 2025 di Riyadh, mengalahkan petenis peringkat dua dunia Iga Swiatek dan petenis peringkat satu dunia Aryna Sabalenka dalam perjalanannya menuju gelar. Di final, ia menguasai Sabalenka dengan skor 6-3, 7-6(0), menutup rangkaian pertandingan tanpa cela melawan lima pemain dari top-10.

Bagi Rybakina, kemenangan penutup musim ini bukan sekadar trofi tambahan. Ini adalah sebuah pernyataan. Deklarasi bahwa setelah berbulan-bulan dilanda inkonsistensi, kesulitan, dan pertarungan mental, ia telah kembali dengan kepercayaan diri dan kejernihan yang dulu menjadikannya salah satu pemain paling ditakuti di tur. Performa Rybakina di WTA Finals menunjukkan keyakinan dan ketegasan yang sempat hilang sepanjang sebagian besar tahun 2025.

Sepanjang musim, Rybakina sering tampil jauh dari level elite. Ia tersingkir lebih awal di turnamen-turnamen Grand Slam, keluar dari jajaran top-10, dan gagal meraih gelar dalam waktu yang cukup lama. Yang lebih mengkhawatirkan adalah cara ia bermain: tidak yakin, terlihat frustrasi, dan seolah kehilangan arah secara taktis. Kekalahan menyakitkan dari posisi match point maupun saat ia tinggal menutup pertandingan terus mengikis kepercayaan dirinya. Ia terjebak dalam lingkaran psikologis—tidak bisa menang karena kurang percaya diri, dan tidak bisa mendapatkan kepercayaan diri karena tidak mampu menang.

Bahkan gelarnya di Strasbourg menjelang Roland Garros pun tidak sepenuhnya memutus siklus itu. Namun menjelang akhir musim, Rybakina mulai membangun kembali fondasinya. Kemenangannya di WTA 500 Ningbo menjadi awal dari kebangkitan. Di Tokyo, ia mengumpulkan cukup poin untuk lolos ke WTA Finals, dan pencapaian itu tampaknya mengembalikan rasa percaya diri serta tujuan yang jelas.

Setibanya di Riyadh, ia tampil tak terbendung.

Ketika permainan Rybakina berada pada level terbaiknya, tidak ada yang sebanding dengannya di WTA Tour—tidak ada yang sekuat itu, sebersih itu, atau sekaligus seefisien itu.

Servisnya mungkin yang terbaik di tenis putri. Pada 2025, ia menghasilkan lebih dari 500 ace, dan di final WTA Finals ia melepaskan servis yang tak dapat dikembalikan hampir di setiap gim. Yang lebih penting, servisnya adalah senjata yang bisa ia andalkan saat berada di bawah tekanan—ia menyelamatkan dua set point melawan Sabalenka pada set kedua dengan servis berani yang ditempatkan sempurna.

Permainan return-nya sama menghancurkannya. Sabalenka berulang kali mengarahkan servis ke forehand Rybakina untuk memaksanya melakukan kesalahan, tetapi strategi itu runtuh di tiebreak. Rybakina menghukum setiap bola pendek dengan return dalam, berat, dan sulit dibaca yang sepenuhnya mematahkan perlawanan Sabalenka.

Dari baseline, kekuatan Rybakina benar-benar menguasai permainan. Baik Swiatek maupun Sabalenka tidak mampu menangani kombinasi kedalaman dan kecepatan bolanya ketika ia bermain dengan intensitas penuh. Ia melepaskan groundstroke bertenaga tinggi secara konsisten dari posisi mana pun di lapangan, mempersempit waktu reaksi lawan dan membuat mereka tanpa ruang untuk bernapas.

Namun yang membuat perjalanan Rybakina di WTA Finals benar-benar istimewa adalah ketenangannya di bawah tekanan. Ia kalah set pertama dari Swiatek dan Pegula pada babak-babak sebelumnya—tetapi selalu merespons dengan tenis yang lebih superior. Di final, ia menahan tekanan Sabalenka di akhir pertandingan, menyelamatkan set point, lalu menghasilkan tiebreak sempurna, memenangkannya 7-0 melalui kualitas permainan murni, bukan karena kesalahan lawan.

Kemenangan Rybakina menandai perubahan total dari ketidakpastian dan keraguan diri yang sempat mendefinisikan perjuangannya di pertengahan musim. Dengan kepercayaan diri yang kembali, servis kelas elite, dan ketangguhan mental yang meningkat, ia tampak siap kembali menegaskan dirinya sebagai kekuatan besar menjelang musim 2026.

Saat antisipasi untuk Grand Slam tahun depan—termasuk US Open 2026—semakin meningkat, dominasi Rybakina di Riyadh menempatkannya sebagai salah satu penantang utama. Jika ia mampu mempertahankan level ini, para pesaing di sektor putri sekali lagi akan berhadapan dengan pemain yang tidak hanya mampu bersaing dengan yang terbaik, tetapi juga mampu mengalahkan mereka secara langsung.

Related posts