Musim 2025 Amanda Anisimova telah menjadi salah satu kisah paling menarik di tenis putri—bukan hanya karena hasil-hasilnya, tetapi karena transformasi radikal yang melatarbelakanginya. Lama dianggap sebagai salah satu pemain paling berbakat namun secara emosional rapuh di tur, Anisimova justru menentang ekspektasi dan menulis ulang gambaran tentang seperti apa ketangguhan mental di level tenis profesional.
Selama bertahun-tahun, kerentanan psikologis tampak seperti hambatan yang mustahil untuk ia atasi. Di tenis putri, ketidakstabilan emosional di bawah tekanan sering dianggap sebagai sifat permanen. Ketika seorang pemain kesulitan menghadapi momen-momen krusial, pola tersebut biasanya terus berulang sepanjang karier—terlepas dari performa, peringkat, atau kemenangan sebelumnya. Pemain seperti ini dapat memenangkan pertandingan besar, bahkan gelar besar, tetapi jarang menjadi penantang yang dapat diandalkan. Pertandingan mereka sering berubah menjadi pertarungan emosional sama besar dengan fisik, dengan fluktuasi mental yang terkadang menutupi kualitas tenis itu sendiri.
Anisimova dulu merupakan contoh yang paling sempurna. Setelah kehilangan ayahnya secara mendadak dan merasakan beratnya tekanan hidup di tur, ia memilih menjauh dari olahraga. Ketidakmampuannya untuk bertahan secara emosional sangat dapat dimengerti, dan hanya sedikit yang mengira ia akan kembali—apalagi kembali dengan kekuatan yang lebih besar.
Namun tahun 2025 menandai sebuah kebangkitan yang menakjubkan. Final Wimbledon, final US Open, dua gelar WTA 1000, debut di WTA Finals, dan masuk ke jajaran top-5—Anisimova bukan sekadar menghidupkan kembali kariernya; ia meningkatkan levelnya ke titik yang sebelumnya dianggap mustahil mengingat kesulitan mental yang ia hadapi. Di balik setiap pencapaian besar itu terdapat satu perubahan mendasar: ia justru menjadi lebih kuat pada momen-momen ketika pertandingan berada di titik tersulit.
Perubahan itu paling jelas terlihat dalam pertandingannya di WTA Finals melawan Iga Swiatek. Dengan satu tempat semifinal sebagai taruhannya, Anisimova bangkit setelah kalah set pertama dan menang 6-7(3), 6-4, 6-2 dalam salah satu penampilan paling disiplin dan tanpa rasa takut sepanjang musim. Untuk memahami betapa pentingnya kemenangan itu, pertimbangkan dua catatan Swiatek sebelum pertandingan tersebut:
– Ia tidak pernah kalah dua pertandingan berturut-turut dalam empat tahun.
– Ia belum pernah kalah dua pertandingan beruntun setelah memenangkan set pertama di keduanya.
Anisimova memutus kedua rekor itu dalam satu malam. Yang lebih mengesankan lagi, paruh pertama pertandingan menampilkan tenis berkualitas luar biasa dari kedua pemain—rally agresif dengan pukulan pertama, kecepatan bola yang presisi, dan perubahan momentum yang menuntut kendali mental absolut. Berdasarkan pola sejarah apa pun, pertandingan seharusnya condong ke Swiatek setelah ia merebut set pembuka. Ia lebih berpengalaman, lebih stabil, dan lebih terbukti sebagai juara.
Namun justru Anisimova yang menguasai permainan—bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Ia mempertahankan servisnya sepanjang dua set terakhir, menyerap tekanan tanpa ragu, dan memaksa Swiatek melakukan kesalahan berkat tekad yang tak tergoyahkan. Ini adalah kebalikan dari semua narasi lama tentang kerentanannya. Ketika pertandingan memasuki tahap paling menegangkan, justru di situlah ia menjadi lebih kuat.
Evolusi inilah yang membuat kisahnya benar-benar menginspirasi. Anisimova menunjukkan bahwa ketangguhan emosional bukanlah sifat bawaan yang tidak bisa diubah. Kekuatan bisa dibangun. Kepercayaan diri bisa dilatih. Karakter bisa muncul dari balik tahun-tahun penuh hambatan, kesedihan, dan ketidakpastian. Dalam olahraga di mana keterbatasan psikologis sering tampak permanen, transformasinya hampir tidak ada presedennya.
Menjelang musim 2026, Anisimova berdiri bukan hanya sebagai pemain papan atas, tetapi sebagai salah satu pesaing paling berbahaya untuk US Open mendatang. Kemampuannya yang baru ditemukan untuk menaikkan level permainan di bawah tekanan mungkin menjadi elemen terakhir yang ia butuhkan untuk mengubah perjalanan jauh menjadi gelar Grand Slam.
Bagi para penggemar dan analis, ia menjadi pengingat langka bahwa pertumbuhan selalu mungkin terjadi, bahkan di level tertinggi tenis. Dan terkadang, juara terkuat adalah mereka yang harus membangun kembali diri mereka—dari dalam ke luar.

