Dubai Duty Free Tennis Championships 2026 seharusnya menampilkan dua pemain dengan peringkat tertinggi dunia — Aryna Sabalenka (No.1 dunia) dan Iga Swiatek (No.2 dunia). Namun, keduanya mundur tepat sebelum turnamen dimulai, memicu kritik keras dari direktur turnamen Salah Tahlak, yang secara terbuka meminta sanksi lebih tegas.
Mengapa hal ini menjadi isu besar di tenis putri — dan bagaimana sebenarnya aturan terkait turnamen WTA 1000 yang bersifat wajib?
Mengapa Sabalenka dan Swiatek Seharusnya Bermain di Dubai?
Penjelasannya terletak pada struktur turnamen WTA.
Dubai merupakan turnamen WTA 1000 kategori wajib (mandatory). Berdasarkan regulasi WTA:
- Semua pemain yang memenuhi syarat berdasarkan peringkat otomatis masuk daftar peserta.
- Pemain yang sehat wajib bertanding.
- Status mandatory menjamin partisipasi pemain top demi menjaga prestise dan nilai komersial turnamen.
Berbeda dengan ATP, di mana biaya penampilan (appearance fee) sering digunakan untuk menarik pemain top, struktur WTA bekerja secara berbeda. Dubai membayar lisensi mahal untuk status WTA 1000, dan sebagai imbalannya WTA menjamin partisipasi pemain elite melalui kewajiban regulasi, bukan melalui pembayaran langsung kepada pemain.
Sebagai perbandingan, turnamen ATP 500 di Doha kabarnya memberikan biaya penampilan besar kepada pemain top pekan ini. Dubai mengandalkan aturan wajib partisipasi.
Perbedaan ini sangat penting.
Mengapa Sabalenka dan Swiatek Mundur?
Alasan resmi yang diberikan:
- Aryna Sabalenka – cedera paha kanan.
- Iga Swiatek – “penyesuaian jadwal.”
Namun, Salah Tahlak secara terbuka mempertanyakan kedua alasan tersebut:
“Alasannya terasa agak aneh. Iga mengatakan belum siap secara mental untuk bertanding, dan Sabalenka menyebut cedera ringan.”
Ia bahkan berkonsultasi dengan dokter turnamen, yang menyebut cedera Sabalenka tidak cukup serius untuk mewajibkan mundur. Mengenai Swiatek, ia mempertanyakan apakah alasan jadwal pantas digunakan untuk turnamen wajib.
Di sinilah kontroversi mulai memanas.
Bagaimana Aturan Turnamen Wajib dalam Sistem WTA?
Untuk memahami situasinya, penting melihat sistem peringkat WTA.
Peringkat dihitung dari 18 turnamen, yaitu:
- 4 Grand Slam
- 6 turnamen WTA 1000 gabungan dengan ATP (Indian Wells, Miami, Madrid, Roma, Kanada, Cincinnati, Beijing)
- 1 turnamen WTA 1000 non-gabungan (Dubai, Doha, atau Wuhan sesuai rotasi kalender)
- 7 hasil terbaik dari WTA 1000, 500, atau 250 lainnya
Dubai termasuk kategori mandatory. Ketidakhadiran dapat memicu sanksi tergantung alasannya.
Kemungkinan Sanksi
- Tanpa alasan yang sah
- Nol poin di peringkat
- Denda finansial
- Perubahan jadwal (maksimal tiga kali per musim)
- Nol poin di peringkat
- Tidak ada denda
- Cedera yang diverifikasi dokter turnamen
- Tidak ada penalti poin
- Tidak ada denda
Artinya, klasifikasi alasan menjadi faktor krusial dalam keputusan akhir.
Apa yang Diinginkan Direktur Turnamen Dubai?
Salah Tahlak menilai denda uang tidak efektif.
Ia mengingat contoh masa lalu ketika Serena Williams didenda:
“Denda tidak mengubah apa-apa. Apa arti $100.000? Pemain bisa mendapatkan satu juta di tempat lain.”
Sebagai gantinya, ia mengusulkan sanksi lebih berat:
- Pengurangan 500 hingga 1.000 poin peringkat untuk mundur terlambat dari turnamen wajib.
Sanksi sebesar itu akan berdampak besar pada peringkat dunia, terutama dalam perebutan posisi No.1.
Isu ini direncanakan akan dibahas dalam pertemuan WTA di Roma.
Perdebatan Lebih Besar: Apakah Turnamen Wajib Terlalu Banyak?
Kontroversi ini mencerminkan ketegangan struktural dalam tenis modern.
Banyak pemain mengeluhkan:
- Kalender yang terlalu padat
- Beban fisik tinggi
- Waktu pemulihan terbatas
- Tekanan mental
Dengan empat Grand Slam dan sejumlah WTA 1000 wajib, jadwal sangat berat bagi pemain top. Di sisi lain, turnamen seperti Dubai berinvestasi besar dalam fasilitas, hadiah, dan hak siar global.
Bagi penyelenggara, absennya dua pemain teratas berarti kerugian komersial besar.
Bagi pemain, manajemen kesehatan jangka panjang adalah prioritas utama.
Apakah Poin Benar-Benar Bisa Dicabut?
Dalam praktiknya, pengurangan besar seperti 1.000 poin belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya WTA menerapkan:
- Nol poin pengganti
- Denda
- Pembatasan penggunaan alasan perubahan jadwal
Pengurangan poin besar kemungkinan akan memicu perdebatan hukum dan penolakan dari Dewan Pemain WTA.
Karena itu, tuntutan direktur turnamen mungkin lebih bersifat tekanan politik daripada solusi yang mudah diterapkan.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Beberapa kemungkinan:
- WTA menerima alasan medis → tidak ada sanksi.
- Dikategorikan sebagai perubahan jadwal → nol poin untuk Dubai.
- Regulasi mandatory event direvisi ke depan.
Kasus ini bisa memengaruhi kebijakan partisipasi di turnamen WTA 1000 pada masa mendatang.
Kesimpulan
Kontroversi Dubai bukan sekadar soal Sabalenka dan Swiatek. Ini tentang keseimbangan antara:
- Kepentingan komersial turnamen
- Kesehatan dan beban kerja pemain
- Integritas sistem peringkat
- Konsistensi penegakan aturan
Keputusan WTA dalam kasus ini akan menjadi sinyal penting tentang arah pengelolaan tur tenis putri di tahun 2026 dan seterusnya.
Untuk pembaruan terbaru seputar turnamen WTA 1000, Grand Slam, dan dampaknya terhadap peringkat dunia, kunjungi halaman liputan tenis kami.


